TAHUN
BARU, KABINET BARU
Keragu-raguan dan kecemasan
akan hilangnya pencitraan terhadap diri Presiden SBY merupakan ciri utama sejak
SBY terpilih sebagai Presiden Indonesia. Entah apa karena seorang pemimpin
mesti mempertimbangkan segala keputusan atau karena memang gaya kepemimpinan
SBY seperti demikian. Kita memaklumi jika SBY yang terpilih kali kedua dalam
masa pemerintahannya merupakan seorang pemimpin dengan strategi yang brilian
dan cekatan.
Hal ini diakui oleh beberapa pengamat yang mengatakan jika SBY
adalah ‘ahli strategi’ yang terbaik setelah Soeharto pada masa Orde Baru.
Namun, keahlian yang dimiliki tersebut bisa menjadi bumerang bagi
pemerintahannya—dan bahkan bagi rakyat pada umumnya. Sebab, yang namanya
‘banyak pertimbangan’ erat kaitannya dengan ‘kelambanan’ dan tarik ulur yang
merugikan.
![]() |
| Presiden SBY |
Berbagai media di nusantara
ini kembali mengulas akan adanya reshuffle kabinet di sisa akhir pemerintahan
SBY. Hal ini ditandai dengan kosongnya posisi Menpora yang ditinggalkan Andi
Mallarangeng karena dijadikan tersangka dalam kasus Korupsi Hambalang. Praktis
kinerja Kemenpora berada dalam ujung tanduk akibat tidak adanya mentri sebagai
pucuk pimpinan. Melihat kondisi ini tentu saja rakyat bertanya bagaimana
kinerja kepemimpinan SBY disisa akhir jabatannya dengan membiarkan
gonjang-ganjing ini ‘bak bola liar’ yang tidak ingin ditangkap istana??
SBY harus segera meredakan
beragam analisa ini dengan membuktikan kepada rakyat jika wacana reshuffle ini
hanya menjadi bulan-bulanan alias konsumsi politik para pengamat dan sebagian
elit politik. Yang jelas kursi kosong yang ditinggal Andi harus segera diisi
karena persoalan yang dihadapi kementrian ini khususnya dunia olahraga dan
pemuda menyisakan pekerjaan rumah
yang sangat banyak.
Artinya, SBY mau tidak mau mesti mengganti kekosongan ini
dengan kepastian agar kinerja kementrian yang kosong ditinggal pemimpinnya
segera diisi. Kalupun ada dampak dengan direhufflenya beberapa mentri karena
dianggap berkinerja kurang baik, maka SBY selaku kepala negara dan pemerintahan
mesti mengambil tindakan yang tegas dan cakap. Beberapa desas-desus di kalangan
elit politik malah membenarkan jika akan adanya rehuffle di tahun ini (2013).
Hanya saja, belum ada yang tahu siapakah mentri yang kelak diganti.
Karena itu, melihat kinerja
pemerintahan di tahun 2013 ini yang sebentar lagi dalam kacamata politik dekat
dengan pergantian kekuasaan, maka mentri-mentri yang hanya memikirkan kantong
pribadi dan kelompoknya—sangat tepat untuk direshuffle oleh SBY. Kinerja mentri
yang tidak fokus dan jauh dari target pemerintahan di bawah kuasa SBY harus
segera dianulir agar tidak menganggu stabilitas pemerintah di sisa akhir
jabatannya. Terutama lagi, mentri-mentri yang selama ini sering tersandung
masalah, mulai dari kasus hukum sampai kepada kasus amoral atau kawin lagi.
SBY
selaku pemimpin 230 juta rakyat mesti mengambil keputusan biar bagaimanapun
pertimbangan politiknya menjelang 2014. Sebab, diakui atau tidak di bawah
kepemimpinan SBY negara ini mengalami disorientasi dalam segala bidang terutama
masalah hukum yang kini membelit partai yang dibinanya.
Untuk memulihkan
kepercayaan rakyat terhadap partainya, SBY harus mengambil sikap untuk segera
mereshuffle kursi mentri sekaligus menyudahi politik tarik ulur yang selama ini
beliau praktikkan. Sebab, tidak ada gunanya lagi membiarkan gonjang-ganjing
reshuffle bertumbuh subur karena SBY berpikir untuk menyelamatkan citra dirinya
karena UU telah membatasi bahwa SBY tidak dapat dipilih lagi dalam pemilu 2014
nanti. Mungkinkah ada kejutan reshuffle lagi di 2013 ini?? Kita lihat saja
nanti.
Jakarta, 1 Januari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar