Jakarta The Big City
Jakarta seolah direduksi
dengan kemacetan, banjir, kesumpekan dan Kota tak bertuan. Padahal, sebagai Ibu
Kota Indonesia, Jakarta mampu menjadi kota metropolitan di dunia yang bisa
disandingkan dengan New York, Paris, Kuala Lumpur dan Bangkok. Sayangnya,
kemauan untuk itu hanya dimiliki oleh segelintir elit yang kalah karena
kerakusan beberapa pihak untuk merampas hak Jakarta sebagai kota yang maju,
modern dengan segala atribut di dalamnya.
Fenomena ini mengerucut pada
pertanyaan besar bagi warga Jakarta. Ditengah derasnya himpitan persoalan
ekonomi dan politik nasional, pembangunan kota Jakarta seolah luput dimakan
pemberitaan dan agenda nasional yang selama ini penuh sesak di Jakarta. Ruang
publik yang selama ini menjadi masalah besar, mulai dari transportasi publik,
pelayanan publik, hak-hak individu publik—seolah tenggelam bersama ombak
kencang isu nasional.
Jakarta seolah tak menjadi subjek dari pembangunan
nasional. Jakarta seolah menjadi Jakarta yang ramai dibicarakan menjelang
Pilkada maupun mega korupsinya. Lalu, dimanakah posisi Jakarta dalam konteks
pembangunan nasional? tanda jika Jakarta masih mandeg dalam hal visi
pembangunan kota yang modern ialah tidak seriusnya para elit mengurus Jakarta.
Keringnya visi pembangunan Jakarta menjadi indikator jika Jakarta tak ingin
merubah statusnya dari kota biasa menjadi kota metropolitan modern dan besar di
dunia. Konteks modern disini tidak
sekedar kecanggihan semata yang bertumpu pada high tech. Melalui alat teknologi atau persoalan transportasinya.
Namun, modern dalam konteks ini ialah bagaimana warga Jakarta, baik yang
tinggal/menetap atau menjadi pekerja bersama sepakat menjadikan Jakarta sebagai
kota besar yang sejajar dengan kota-kota lain di dunia.
Kualitas kesehatan
lingkungannya dapat terukur, tidak membahayakan bagi masyarakatnya, ketertiban
di dalam ruang publik, di jalan raya, keamanan dan kenyamanan bagi perempuan
ketika bepergian—adalah sebagian indikator Jakarta sebagai kota Modern yang
sejajar dengan kota lain di dunia. Untuk menjemput itu semua, tentu saja
dibutuhkan kemauan yang kuat terutama dari warga Jakarta itu sendiri.
Pemerintah, dalam hal ini Pemda Jakarta hanya memfasilitasi pembangunan yang
dianggap dibutuhkan masyarakatnya.
Maka dari itu, secara teoritis, dalam tata
kota masyarakat yang tinggal di daerah tersebut harus berpartisipasi aktif
menyuarakan berbagai hal yang menjadi kendala yang menghambat pelayanan
pemerintah terutamanya pada ruang publik di daerah masing-masing. Selain
menjadi objek, masyarakat juga menjadi subjek untuk dilibatkan sebagai agen
pembangunan. Pelibatan ini juga mesti konstitusional. Tidak bisa tambal sulam
apalagi hanya sekedar bagi-bagi proyek.
Warga Jakarta yang modern dituntut untuk
melibatkan diri secara aktif. Artinya, konsep pembangunan yang bottom up dapat dipraktikkan tidak hanya
menjadi slogan semata. Dilihat dari konteks subjek pun maka warga Jakarta
mendapat posisi yang strategis. Karena pelibatan warga dalam membangun daerahnya
terlihat secara nyata. Tidak sekedar diundang ketika mau melakukan pembangunan,
tapi mulai dati tahap pertama hingga terakhir. Disinilah letak modernitas
sebuah kota dipuji.
Warga Jakarta tentu tak
ingin daerah yang dibanggakannya mengalami kemunduran akibat kepemimpinan yang
lemah dan kurang tegas. Melihat kondisi historis dan sosiologis kota Jakarta,
warga berharap kepemimpinan Gubernur terpilih nantinya merupakan orang tepat
dan mampu menyelesaikan persoalan yang
terjadi di Ibukota yang berusia 426 tahun bulan Juni nanti.
Melihat
kecendrungan ini, maka siapapun yang terpilih nantinya, didesak untuk melakukan
perubahan mendasar. Tidak saja soal pembangunan fisik, namun juga dituntut
untuk membangun paradigma baru penghuni Jakarta selama lima tahun mendatang.
Mengapa agenda ini begitu mendesak? Lihat saja, beragam persoalan Jakarta tak
kunjung selesai. Seolah Jakarta tidak diurus selama lima tahun ini. Apa yang
menjadi sebab. Mari kita lihat secara obyektif.
Mereduksi isu pembangunan Jakarta menjadi sekedar
macet dan banjir justru akan membuat lemah visi pembangunan Jakarta sebagai
kota yang sejajar dengan kota-kota lain di dunia. Dimanapun dan kapanpun,
banjir dan macet selalu menghantui daerah-daerah yang ada di Indonesia.
Ditambah, rendahnya posisi tanah dari permukaan laut di Jakarta, berimbas pada
banjir di beberapa daerah tertentu. Langkah solutifnya adalah mempercepat BKT
yang mestinya sudah rampung tahun ini.
Tapi, memperdebatkan dan menyalahkan
kepada pihak Pemda atas beragam persoalan banjir yang kerap datang justru
tidaklah terlalu adil. Apalagi sampai membawa isu banjir sebagai sarapan
menjelang pilkada. Soal banjir dan macet—terletak bagaimana kita melihatnya
secara obyektif. Setiap pembangunan dan kemajuan sebuah daerah pasti memiliki
dampak yang secara bertahap dirasakan oleh warga tersebut. Jadi, menganggap
banjir dan macet diakibatkan salah urus kota Jakarta, menurut hemat penulis
terlalu naif. Lebih baik mewacanakan Jakarta sebagai kota metropolitan besar di
dunia ketimbang menjadikan macet dan banjir sebagai isu sampingan yang tidak
mencerahkan.
Jika konsekuensi ini dijalankan maka dampak yang dirasakan ialah,
siapapun gubernur terpilih akan menjalankan visi Jakarta sebagai kota besar
dunia dengan cara menyelesaikan persoalan dasar warga Jakarta, yaitu
ketertiban. Persoalan Jakarta ialah tidak adanya ketertiban dan kesadaran
bersama. Kontrak politik warga Jakarta dengan dirinya sendiri diragukan. Rasa
memiliki, menjaga dan merawat Jakarta itulah yang kurang dimiliki warga
Jakarta. Akibatnya, sikap ugal-ugalan ditambah ketidakpeduliaan pada Jakarta
semakin memuncak dan menimbulkan sikap apatis di mata mereka.
Pilkada Jakarta
Maka, agar cita-cita
besar untuk menjadikan Jakarta sebagai kota besar dunia dapat menjadi
kenyataan. Dibutuhkan setidaknya dua hal yang harus dikerjakan. Pertama,
mengekplorasi gagasan besar ini untuk kemudian dijadikan semacam konsensus
besar warga Jakarta kepada calon Gubernur yang lolos verifikasi KPUD.
Konsensus
antara rakyat dan calon gubernurnya memang jarang terjadi. Kalaupun ada hal itu
hanya sebatas jargon dan slogan untuk merebut simpati rakyat. Karena itu,
konsensus tersebut harus lebih mengikat dengan adanya jeratan ancaman hukuman
apabila tidak dilaksanakan. Kedua, tidak mesti golput dan apatis menghadapi Pilkada
Jakarta yang akan dilaksanakan. Karena, salah satu bentuk dan keseriusan
bersama untuk menjadikan Jakarta sebagai kota besar dunia, warga Jakarta
dituntut untuk berperan aktif.
Salah satunya dengan mengikuti pilkada.
Masyarakat tidak perlu cemas menghadapi sosok pemimpin Jakarta yang itu-itu
saja. Sebab, yang kita pilih bukanlah sosoknya melainkan ide besarnya membangun
Jakarta untuk ke arah yang lebih baik dan sejahtera. Bukan sekedar berapa
logistik yang siap dikeluarkan untuk memenangkan pertarungan, tapi langkah
strategis kepemimpinannya untuk menjadikan Jakarta sebuah Ibu Kota Indonesia
yang sejajar dengan Ibu Kota dunia
lainnya.
Dimana rakyat secara tertib berjalan dan beraktivitas. Ruang publik
yang aman dan nyaman karena segalanya tertib dan tersedia. Para pekerja mendapatkan
waktu yang produktif karena kemacetan berkurang dan peraturan yang dibuat
dijalankan bukan saja kepada warganya tapi birokrasi daerah Jakarta. Jadi,
walaupun kucing itu garong sekalipun tapi dia bisa menangkap dan menjaga rumah
kita dari tikus-tikus yang menganggu, maka tidak ada salahnya untuk saat ini
berdamai dengan kucing sampai suatu saat kita menemukan formula untuk
melenyapkan tikus dari rumah kita selama-lamanya.
Selama kucing garong itu
membuat nyaman dan aman pemilik rumah kenapa tidak dicoba ketimbang menyerahkan
dan membiarkan kucing garong tersebut berpesta pora di dalam rumah yang
seharusnya diisi dengan kemajuan dan kesejahteraan bagi penghuninya akibat sang
pemilik acuh untuk memberdayakan kucing garong tersebut.
Jakarta, 27 Maret 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar