Jumat, 15 Februari 2013

Soal Partai Politik



Partai Koruptor Indonesia



Salah satu krisis yang hingga kini tidak dapat mengeluarkan  bangsa ini dari berbagai macam problematika kebangsaan yang makin menyudutkan Indonesia dalam kegelapan ialah, ketiadaan kepemimpinan yang bersifat negarawan. Hal tersebut membuat bangsa ini berada dalam pusara badai yang tak kunjung usai. Lihat saja, berbagai kasus yang kian marak akhir-akhir ini membuat rakyat seolah tak berdaya menghadapi derasnya ombak korupsi menyapu bibir pantai kesejahteraan bangsa. Jika dulu korupsi menjadi hal yang tabu dan memalukan, kini korupsi ibarat kebudayaan baru yang tidak bisa dilepaskan dari baju pejabat dan elit negara. Tidak semuanya memang, namun biar sedikit korupsi tetap saja membuat jutaan rakyat menjadi sengsara. Jika dulu korupsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sekarang korupsi dipentaskan dalam sebuah panggung yang bahkan dijadikan sebuah panutan dari orkestra lemahnya penegakan hukum dan rendahnya komitmen kebangsaan para elit-elit negara. 


Korupsi yang kian menyimpang dari cita-cita luhur bangsa kini dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Tak peduli mereka yang berangkat dari kalangan aktivis, pengusaha, artis bahkan tokoh agama sekalipun, korupsi tak ragu mendatangi siapa saja selama ada kesempatan melakukan korupsi. Parahnya, fungsi kepemimpinan yang seharusnya bisa mengeleminasi prilaku dan praktik ini seolah enggan mengeluarkan pedang tajam untuk menghunus para koruptor di medan laga perjuangan memberantas korupsi. SBY dan para penegak hukum, mulai dari KPK, Polisi, Kejaksaan hingga Satgas yang dibentuk oleh pemerintah, seolah tak berdaya hingga koruptor merajela menginjakkan kaki di Indonesia. 

Kelemahan serta miskinnya keberanian inilah yang diindikasikan sebagai peluang dan ladang bagi suburnya korupsi di negri ini. Jika sudah begitu, maka rakyat tak lagi bisa mengedepankan akal sehat untuk menilai jika elit negara kita mampu membersihkan sampah-sampah ini dengan sapu bersihnya. 


Belum lagi berbagai panggung sandiwara yang dipertontonkan dalam kasus wisma atlet, dimana mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin dan Fungsionaris partainya, Angelina Sondakh, membuat hukum seolah sinetron yang bercerita tentang kepalsuan. Pisau tajam hukum seolah tak tembus bagi kedua orang ini karena mereka berasal dari partai penguasa. Partai Demokrat yang menjual isu korupsi sebagai bahan kampanyenya pada pemilu lalu-- tak berdaya menyaksikan satu-per satu kader partai berlambang Bintang Mercy itu larut dalam buaiaan korupsi yang menghanyutkan. Jika benar terbukti bersalah, maka Partai Demokrat akan menuai badai yang tidak mudah. 


Pada pemilu 2014 nanti partai Demokrat akan sejajar  dengan partai koruptor lainnya. Sebagai sanksinya Partai Demokrat tak mesti lagi mengedepankan kebersihan dari korupsi karena terbukti bahwa korupsi kini menjadi bagian dari pada pola gerakan partai yang dimiliki penguasa ini. Ancaman nyatanya, partai Demokrat bahkan ditinggalkan pemilihnya karena tenggelam dalam praktik korupsi yang menjangkiti partai bentukan SBY ini.


Mengedepankan Akal Sehat
Membuat partai jerah dan membuat pemimpin bangsa yang kita tunggu dengan kekuatan penuh, merupakan ikhtiar yang mesti dilakukan oleh rakyat Indonesia. Terbukti, partai-partai yang seharusnya menjadi wadah bagi lahirnya calon generasi pemimpin bangsa, hari ini terlihat tandus dan suram. Karena, parpol pun berisi orang-orang korup yang berlindung di balik kekuasaan sehingga bisa membalikkan sebuah fakta yang dituduhkan. 

Lihat saja bagaimana kasus Century, BLBI, Mafia Pajak dan Wisma Atlit yang menjerat partai-partai besar ke dalam pusara kebohongan. Lihat saja bagaimana para aktor dari drama politik membohongi rakyat dengan begitu lantang sehingga sikap masyarakat menjadi bingung. Kesemua hal ini bermuara dari ketiadaan pemimpin bangsa yang dengan sungguh-sunguh melakukan perombakan besar-besaran terhadap kader-kader bermasalah sekaligus elit-elit negara yang diindikasikan korupsi. Politik masih menjadi panglima sekaligus primadona untuk menuai dukungan politik dari parpol-parpol. Budaya dagang sapi dan tawar menawar kekuasaan masih diamini sebagai ritual politik dari sistem yang korup sebagaimana yang kita lihat sekarang. Alhasil, maka tidak ada prestasi yang mesti kita banggakan selama bangsa ini dipimpin oleh orang yang lahir dari sistem korup dan peragu.


Merindukan Pemimpin tegas
Ditengah derasnya sikap apatisme masyarakat terhadap partai untuk melahirkan dan memproses kader pemimpin bangsa. Rakyat terus berharap pada pemilu 2014 nanti akan lahir sosok pemimpin yang mampu menghantarkan kesejahteraan tidak saja menjadi sekedar slogan. Maka dari itu kepemimpinan yang kuat mesti ditegakkan oleh parpol dengan cara meniadakan riak-riak dan sampah yang akan merusak kader partai dari dalam. Salah satunya dengan cara memecat kader parpol yang terindikasi korupsi. 


Komitmen ini penting untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap parpol yang saat ini sudah jauh berkurang. Namun, karena sistem politik yang mengharuskan parpol memegang tampuk kekuasaan, maka rakyat mesti berharap akan adanya perubahan dari dalam parpol itu sendiri. Sehingga, harapan rakyat parpol akan melahirkan pemimpin yang tegas, tidak peragu, independen dan terpenting bebas dari praktik korupsi selama dirinya menapaki karir politiknya di parpol tersebut. Pertanyaanya, mungkinkah hal ini terjadi? Mari kita tunggu 2014 nanti

Jakarta, 2 April 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar