Partai Koruptor
Indonesia
Salah satu krisis yang hingga kini tidak dapat
mengeluarkan bangsa ini dari berbagai
macam problematika kebangsaan yang makin menyudutkan Indonesia dalam kegelapan
ialah, ketiadaan kepemimpinan yang bersifat negarawan. Hal tersebut membuat
bangsa ini berada dalam pusara badai yang tak kunjung usai. Lihat saja,
berbagai kasus yang kian marak akhir-akhir ini membuat rakyat seolah tak
berdaya menghadapi derasnya ombak korupsi menyapu bibir pantai kesejahteraan
bangsa. Jika dulu korupsi menjadi hal yang tabu dan memalukan, kini korupsi
ibarat kebudayaan baru yang tidak bisa dilepaskan dari baju pejabat dan elit
negara. Tidak semuanya memang, namun biar sedikit korupsi tetap saja membuat
jutaan rakyat menjadi sengsara. Jika dulu korupsi dilakukan secara
sembunyi-sembunyi, sekarang korupsi dipentaskan dalam sebuah panggung yang
bahkan dijadikan sebuah panutan dari orkestra lemahnya penegakan hukum dan
rendahnya komitmen kebangsaan para elit-elit negara.
Korupsi yang kian
menyimpang dari cita-cita luhur bangsa kini dilakukan oleh siapa saja dan
dimana saja. Tak peduli mereka yang berangkat dari kalangan aktivis, pengusaha,
artis bahkan tokoh agama sekalipun, korupsi tak ragu mendatangi siapa saja
selama ada kesempatan melakukan korupsi. Parahnya, fungsi kepemimpinan yang
seharusnya bisa mengeleminasi prilaku dan praktik ini seolah enggan
mengeluarkan pedang tajam untuk menghunus para koruptor di medan laga
perjuangan memberantas korupsi. SBY dan para penegak hukum, mulai dari KPK,
Polisi, Kejaksaan hingga Satgas yang dibentuk oleh pemerintah, seolah tak
berdaya hingga koruptor merajela menginjakkan kaki di Indonesia.
Kelemahan
serta miskinnya keberanian inilah yang diindikasikan sebagai peluang dan ladang
bagi suburnya korupsi di negri ini. Jika sudah begitu, maka rakyat tak lagi
bisa mengedepankan akal sehat untuk menilai jika elit negara kita mampu
membersihkan sampah-sampah ini dengan sapu bersihnya.
Belum lagi berbagai
panggung sandiwara yang dipertontonkan dalam kasus wisma atlet, dimana mantan
Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin dan Fungsionaris partainya,
Angelina Sondakh, membuat hukum seolah sinetron yang bercerita tentang
kepalsuan. Pisau tajam hukum seolah tak tembus bagi kedua orang ini karena
mereka berasal dari partai penguasa. Partai Demokrat yang menjual isu korupsi
sebagai bahan kampanyenya pada pemilu lalu-- tak berdaya menyaksikan satu-per
satu kader partai berlambang Bintang Mercy itu larut dalam buaiaan korupsi yang
menghanyutkan. Jika benar terbukti bersalah, maka Partai Demokrat akan menuai
badai yang tidak mudah.
Pada pemilu 2014 nanti partai Demokrat akan sejajar dengan partai koruptor lainnya. Sebagai
sanksinya Partai Demokrat tak mesti lagi mengedepankan kebersihan dari korupsi
karena terbukti bahwa korupsi kini menjadi bagian dari pada pola gerakan partai
yang dimiliki penguasa ini. Ancaman nyatanya, partai Demokrat bahkan
ditinggalkan pemilihnya karena tenggelam dalam praktik korupsi yang menjangkiti
partai bentukan SBY ini.
Mengedepankan Akal Sehat
Membuat partai jerah dan membuat pemimpin bangsa yang kita
tunggu dengan kekuatan penuh, merupakan ikhtiar yang mesti dilakukan oleh
rakyat Indonesia. Terbukti, partai-partai yang seharusnya menjadi wadah bagi
lahirnya calon generasi pemimpin bangsa, hari ini terlihat tandus dan suram.
Karena, parpol pun berisi orang-orang korup yang berlindung di balik kekuasaan
sehingga bisa membalikkan sebuah fakta yang dituduhkan.
Lihat saja bagaimana
kasus Century, BLBI, Mafia Pajak dan Wisma Atlit yang menjerat partai-partai
besar ke dalam pusara kebohongan. Lihat saja bagaimana para aktor dari drama
politik membohongi rakyat dengan begitu lantang sehingga sikap masyarakat
menjadi bingung. Kesemua hal ini bermuara dari ketiadaan pemimpin bangsa yang
dengan sungguh-sunguh melakukan perombakan besar-besaran terhadap kader-kader
bermasalah sekaligus elit-elit negara yang diindikasikan korupsi. Politik masih
menjadi panglima sekaligus primadona untuk menuai dukungan politik dari
parpol-parpol. Budaya dagang sapi dan tawar menawar kekuasaan masih diamini
sebagai ritual politik dari sistem yang korup sebagaimana yang kita lihat
sekarang. Alhasil, maka tidak ada prestasi yang mesti kita banggakan selama
bangsa ini dipimpin oleh orang yang lahir dari sistem korup dan peragu.
Merindukan Pemimpin tegas
Ditengah derasnya sikap apatisme masyarakat terhadap partai
untuk melahirkan dan memproses kader pemimpin bangsa. Rakyat terus berharap pada
pemilu 2014 nanti akan lahir sosok pemimpin yang mampu menghantarkan
kesejahteraan tidak saja menjadi sekedar slogan. Maka dari itu kepemimpinan
yang kuat mesti ditegakkan oleh parpol dengan cara meniadakan riak-riak dan
sampah yang akan merusak kader partai dari dalam. Salah satunya dengan cara memecat
kader parpol yang terindikasi korupsi.
Komitmen ini penting untuk mengembalikan
kepercayaan rakyat terhadap parpol yang saat ini sudah jauh berkurang. Namun,
karena sistem politik yang mengharuskan parpol memegang tampuk kekuasaan, maka
rakyat mesti berharap akan adanya perubahan dari dalam parpol itu sendiri.
Sehingga, harapan rakyat parpol akan melahirkan pemimpin yang tegas, tidak
peragu, independen dan terpenting bebas dari praktik korupsi selama dirinya
menapaki karir politiknya di parpol tersebut. Pertanyaanya, mungkinkah hal ini
terjadi? Mari kita tunggu 2014 nanti
Jakarta, 2 April 2012
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar