Jumat, 15 Februari 2013

Soal KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam)




SEJUTA HARAP BAGI KAHMI
Sebuah catatan untuk Kepengurusan KAHMI Periode 2012-2017


Sebagai Ormas Islam yang termasuk sangat strategis di Indonesia, KAHMI (Korpas Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) mendapat sorotan tajam di Munas ke IX yang diadakan di Pekanbaru, Riau (30/11) kemarin. Tidak saja bagi keluarga HMI itu sendiri, tapi juga perhatian masyarakat dan Umat Islam di Indonesia. Mengapa demikian?? Sebab, KAHMI memiliki ribuan anggota berasal dari beragam kalangan pejabat, pengusaha, birokrat dan memiliki jabatan penting di daerah dan negara ini. Dari situ kemudian letak strategis sekaligus arti seberapa prestisius KAHMI di mata masyarakat. Namun, tak ubahnya sebagai sebuah istana megah dan mewah, KAHMI pun tak lepas dari kritik dan pandangan sinis yang diberikan Umat dan masyarakat Indonesia.


 Walaupun KAHMI dipenuhi kerlap-kerlip orang-orang ‘hebat’ dan ‘penting’ di negara ini, nyatanya KAHMI belum memiliki dampak signifikan terkait berbagai hal yang terjadi pada bangsa ini. Dalam konteks pemikiran kebangsaan misalnya. KAHM tidak lagi tampil ke depan panggung dan menjadi inisiator atas wacana kajian yang lekat dengan HMI ketika mereka masih menjadi aktivisnya. Kesibukan atas jabatan dan aktivitas sehari-hari anggota KAHMI menjadikan Ormas ini tandus dari kesuburan ide dan gagasan sebagai bagian dari refleksi kehidupan kebangsaan. Wacana kebangsaan KAHMI pun menyempit seiring dengan era demokrasi liberal yang justru diamini tanpa dilihat lobang-lobang hitam yang tak jarang menyebabkan perang atas nama demokrasi. Pemikiran kebangsaan pegiat KAHMI tenggelam samudera kekuasaan dengan sejuta usaha namun melupakan kodratnya sebagai insan pencipta bukan penikmat belaka. 


Akhirnya, panggung pemikiran kosong dan diisi dengan wacana pinggiran yang menghanyutkan bangsa ini—terutama para generasi muda ke dalam arena kebebasan tanpa etika dan etika tanpa implementasi. Parahnya, kondisi ini terjadi di depan KAHMI melalui beragam media yang ada. KAHMI tak berdaya menghadapi gempuran virus pragmatisme dalam segala hal yang juga menjangkiti paru-paru organisasi yang dideklarasikan di Surakarta pada tahun 1966 ini. Akhirnya, nafas perubahan yang selalu diimpikan dan diharapkan pasca Munas ke Munas yang telah sering diselenggarakan oleh ormas Islam ini—tak bergaung dan makin menjauhi cita-cita serta tujuan KAHMI terbentuk. Apa yang menjadi sebab kemandulan KAHMI tersebut??


Kekuasaan sebagai Panglima
Apa lagi yang dicari oleh para pegiat KAHMI dewasa ini jika bukan kekuasaan semata? Sekilas argumentasi itulah yang setidaknya bisa menggambarkan jika para pegiat KAHMI, baik pusat maupun daerah berlomba-lomba untuk mendapat atau mempertahankan kekuasaan sebagai tujuan berorganisasi. Isu keumatan ataupun ladang perjuangan hanya menjadi bumbu yang sekilas memberi harapan angin surga kepada masyarakat dan umat. KAHMI terjebak dalam skema politik pragmatisme yang mulai akut sejak KAHMI kehilangan roh intelektualismenya sebagai dasar pergerakan di masyarakat. Intelektualitas atau kecendikiaan dipinggirkan guna memuluskan kekuasaan sebagai pola transaksi dan berinteraksi antar sesama. Hal ini memang bisa dibantah dengan logika yang cukup sempit. Namun, fakta tidak bisa dirubah dengan sejuta alasan dan beragam pembenaran apapun. KAHMI tidak lagi memiliki gaung yang mengguncang dimensi kehidupan bangsa.


KAHMI bahkan terancam menjadi tuna atas persoalan bangsa yang salah satunya juga turut disumbang prilaku politik alumni HMI yang bertebaran di pemerintahan. KAHMI gagap menarik garis tegas antara politik nasional yang sifatnya jangka pendek dengan politik jangka panjang yang lebih visioner dengan mengutamakan sikap kenegarawanan para pegiat KAHMI. Begitupula dengan relasinya dengan kepemimpinan nasional. KAHMI tunduk dan mengekor pada kekuasaan dengan membiarkan sambil menutup mata terkait berbagai persitiwa yang terjadi tanpa adanya penyikapan serius KAHMI. Berbagai isu politik, ekonomi dan keumatan lewat di depan teras tanpa dapat diambil penyikapan KAHMI. Bukan berarti  KAHMI bersikap oposisi—namun lebih strategis daripada itu. Alumni HMI yang berhimpun pada KAHMI mestinya mampu membedakan diri antara pegiat politik dan aktivis muslim yang memiliki kewajiban membenarkan ketika seorang imam mengambil langkah yang kurang tepat. Implikasinya tentu saja akan menguatkan komitmen alumni HMI dalam menyikapi persoalan bangsa. Singkatnya, KAHMI mampu menjadi penyeimbang bukan pendukung kekuasaan rezim berkuasa.


KAHMI dan Kepemimpinan Nasional
Menjelang 2014 syahwat politik alumni HMI pun kembali terangsang mengingat momentum politik tersebut begitu strategis untuk digunakan sebagai ladang perjuangan. Namun, bukan berarti dengan adanya monemtum tersebut KAHMI lantas tidak bias dengan kepentingan yang dimilikinya. Entah kepentingan partai, kelompok atau ambisi pribadi. Meletakkan KAHMI sebagai ormas Islam besar yang berpengaruh dengan cara merebut kekuasaan semata sama halnya dengan mengecilkan peranan kebangsaan dan gagasan besar KAHMI sebagai milik umat dan bangsa. KAHMI harus mengisi ruang kosong yang banyak ditinggalkan oleh aktivis dan cendikia muslim saat ini. KAHMI berpotensi menjadi agen perubahan karena berbagai sumber daya yang cukup untuk melakukannya. Bukan menggali potensi untuk meraup keuntungan berupa jabatan atau kekuasan semata. KAHMI mesti menyudahi gemerlap kehausan kekuasaan tanpa harus meninggalkan dengan cara ekstrim. 


Karena itu, potensi besar harus dikelola secara bijak dan strategis. Tidak semata-mata menjadi kutu loncat politik untuk bargainning position jabatan yang lebih tinggi atau berlindung dari bidikan kasus hukum yang mendera.
Sebagai bagian dari ikhtiar untuk melakukan perubahan kepada bangsa, tepatlah kiranya jika KAHMI di bawah kepemimpinan Mahfud  MD, Viva Yoga, Anas Urbaningrum dan sejumlah nama besar lainnya—bekerja untuk umat dan bangsa diatas kepentingan partai dan ambisi pribadi. Sebab, cita-cita besar KAHMI dan bangsa ini masih jauh dari harapan. Mari kita melihat sejauh apa kolaborasi kepempinan KAHMI yang terpilih di Kampar, Riau, kemarin ini (2/12).  

 Selamat bertugas

Jakarta, 16 Januari 2012  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar