SEJUTA HARAP BAGI KAHMI
Sebuah catatan untuk Kepengurusan KAHMI Periode 2012-2017
Sebagai
Ormas Islam yang termasuk sangat strategis di Indonesia, KAHMI (Korpas Alumni
Himpunan Mahasiswa Islam) mendapat sorotan tajam di Munas ke IX yang diadakan
di Pekanbaru, Riau (30/11) kemarin. Tidak saja bagi keluarga HMI itu sendiri,
tapi juga perhatian masyarakat dan Umat Islam di Indonesia. Mengapa demikian??
Sebab, KAHMI memiliki ribuan anggota berasal dari beragam kalangan pejabat,
pengusaha, birokrat dan memiliki jabatan penting di daerah dan negara ini. Dari
situ kemudian letak strategis sekaligus arti seberapa prestisius KAHMI di mata
masyarakat. Namun, tak ubahnya sebagai sebuah istana megah dan mewah, KAHMI pun
tak lepas dari kritik dan pandangan sinis yang diberikan Umat dan masyarakat
Indonesia.
Walaupun KAHMI dipenuhi kerlap-kerlip orang-orang ‘hebat’ dan
‘penting’ di negara ini, nyatanya KAHMI belum memiliki dampak signifikan
terkait berbagai hal yang terjadi pada bangsa ini. Dalam konteks pemikiran
kebangsaan misalnya. KAHM tidak lagi tampil ke depan panggung dan menjadi
inisiator atas wacana kajian yang lekat dengan HMI ketika mereka masih menjadi
aktivisnya. Kesibukan atas jabatan dan aktivitas sehari-hari anggota KAHMI
menjadikan Ormas ini tandus dari kesuburan ide dan gagasan sebagai bagian dari
refleksi kehidupan kebangsaan. Wacana kebangsaan KAHMI pun menyempit seiring
dengan era demokrasi liberal yang justru diamini tanpa dilihat lobang-lobang
hitam yang tak jarang menyebabkan perang atas nama demokrasi. Pemikiran
kebangsaan pegiat KAHMI tenggelam samudera kekuasaan dengan sejuta usaha namun
melupakan kodratnya sebagai insan pencipta bukan penikmat belaka.
Akhirnya,
panggung pemikiran kosong dan diisi dengan wacana pinggiran yang menghanyutkan
bangsa ini—terutama para generasi muda ke dalam arena kebebasan tanpa etika dan
etika tanpa implementasi. Parahnya, kondisi ini terjadi di depan KAHMI melalui
beragam media yang ada. KAHMI tak berdaya menghadapi gempuran virus pragmatisme
dalam segala hal yang juga menjangkiti paru-paru organisasi yang dideklarasikan
di Surakarta pada tahun 1966 ini. Akhirnya, nafas perubahan yang selalu
diimpikan dan diharapkan pasca Munas ke Munas yang telah sering diselenggarakan
oleh ormas Islam ini—tak bergaung dan makin menjauhi cita-cita serta tujuan
KAHMI terbentuk. Apa yang menjadi sebab kemandulan KAHMI tersebut??
Kekuasaan
sebagai Panglima
Apa lagi
yang dicari oleh para pegiat KAHMI dewasa ini jika bukan kekuasaan semata?
Sekilas argumentasi itulah yang setidaknya bisa menggambarkan jika para pegiat
KAHMI, baik pusat maupun daerah berlomba-lomba untuk mendapat atau
mempertahankan kekuasaan sebagai tujuan berorganisasi. Isu keumatan ataupun
ladang perjuangan hanya menjadi bumbu yang sekilas memberi harapan angin surga
kepada masyarakat dan umat. KAHMI terjebak dalam skema politik pragmatisme yang
mulai akut sejak KAHMI kehilangan roh intelektualismenya sebagai dasar
pergerakan di masyarakat. Intelektualitas atau kecendikiaan dipinggirkan guna
memuluskan kekuasaan sebagai pola transaksi dan berinteraksi antar sesama. Hal
ini memang bisa dibantah dengan logika yang cukup sempit. Namun, fakta tidak
bisa dirubah dengan sejuta alasan dan beragam pembenaran apapun. KAHMI tidak
lagi memiliki gaung yang mengguncang dimensi kehidupan bangsa.
KAHMI bahkan
terancam menjadi tuna atas persoalan bangsa yang salah satunya juga turut
disumbang prilaku politik alumni HMI yang bertebaran di pemerintahan. KAHMI gagap
menarik garis tegas antara politik nasional yang sifatnya jangka pendek dengan
politik jangka panjang yang lebih visioner dengan mengutamakan sikap
kenegarawanan para pegiat KAHMI. Begitupula dengan relasinya dengan
kepemimpinan nasional. KAHMI tunduk dan mengekor pada kekuasaan dengan
membiarkan sambil menutup mata terkait berbagai persitiwa yang terjadi tanpa
adanya penyikapan serius KAHMI. Berbagai isu politik, ekonomi dan keumatan
lewat di depan teras tanpa dapat diambil penyikapan KAHMI. Bukan berarti KAHMI bersikap oposisi—namun lebih strategis
daripada itu. Alumni HMI yang berhimpun pada KAHMI mestinya mampu membedakan
diri antara pegiat politik dan aktivis muslim yang memiliki kewajiban
membenarkan ketika seorang imam mengambil langkah yang kurang tepat.
Implikasinya tentu saja akan menguatkan komitmen alumni HMI dalam menyikapi
persoalan bangsa. Singkatnya, KAHMI mampu menjadi penyeimbang bukan pendukung
kekuasaan rezim berkuasa.
KAHMI dan
Kepemimpinan Nasional
Menjelang
2014 syahwat politik alumni HMI pun kembali terangsang mengingat momentum
politik tersebut begitu strategis untuk digunakan sebagai ladang perjuangan.
Namun, bukan berarti dengan adanya monemtum tersebut KAHMI lantas tidak bias
dengan kepentingan yang dimilikinya. Entah kepentingan partai, kelompok atau
ambisi pribadi. Meletakkan KAHMI sebagai ormas Islam besar yang berpengaruh
dengan cara merebut kekuasaan semata sama halnya dengan mengecilkan peranan
kebangsaan dan gagasan besar KAHMI sebagai milik umat dan bangsa. KAHMI harus
mengisi ruang kosong yang banyak ditinggalkan oleh aktivis dan cendikia muslim
saat ini. KAHMI berpotensi menjadi agen perubahan karena berbagai sumber daya
yang cukup untuk melakukannya. Bukan menggali potensi untuk meraup keuntungan
berupa jabatan atau kekuasan semata. KAHMI mesti menyudahi gemerlap kehausan kekuasaan
tanpa harus meninggalkan dengan cara ekstrim.
Karena itu, potensi besar harus
dikelola secara bijak dan strategis. Tidak semata-mata menjadi kutu loncat
politik untuk bargainning position
jabatan yang lebih tinggi atau berlindung dari bidikan kasus hukum yang
mendera.
Sebagai
bagian dari ikhtiar untuk melakukan perubahan kepada bangsa, tepatlah kiranya
jika KAHMI di bawah kepemimpinan Mahfud
MD, Viva Yoga, Anas Urbaningrum dan sejumlah nama besar lainnya—bekerja
untuk umat dan bangsa diatas kepentingan partai dan ambisi pribadi. Sebab, cita-cita
besar KAHMI dan bangsa ini masih jauh dari harapan. Mari kita melihat sejauh
apa kolaborasi kepempinan KAHMI yang terpilih di Kampar, Riau, kemarin ini
(2/12).
Selamat bertugas
Jakarta, 16 Januari 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar