Jumat, 15 Februari 2013

Soal Nasionalisme....



KOPI DAN NASIONALISME 2013


Tahun baru 2013 datang menyingsing menyapa dengan kegembiraan bagi setiap insan di bangsa ini. Namun, tahukah anda jika resolusi dalam setiap tahun baru  penting guna mengingatkan rakyat agar berbuat lebih baik terutama bagi kehidupan bangsa ini. Nah, dari situlah catatan penting tentang nasionalisme menguat dan mesti digugat oleh setiap kita. Salah satu contohnya adalah ‘Kopi’. Memang terksesan terlalu ‘lebay’ kata anak sekarang. Tapi, dari sebuah kopi nasionalisme itu bisa diuji. Bagaimana caranya??
Menikmati secangkir kopi bukan lagi sekedar untuk melepas dahaga atau menghilangkan kantuk belaka. Di era modern ini, minum kopi sudah menjadi gaya hidup yang tidak bisa disangsikan. Tengoklah berbagai kedai kopi ‘asing’ yang kini berjamuran di pusat-pusat keramaiaan kota. Jakarta misalnya, kini dikepung dengan kedai kopi ‘asing’ yang subur dan ramai pengunjung.


Kopi yang disajikan pun beraneka ragam. Mulai dari kopi import sampai kopi lokal yang harganya cukup menguras kocek pelanggan. Kopi sendiri merupakan hasil alam yang cukup besar di konsumsi masyarakat dunia—setelah minyak dan gas. Hal ini terbukti dari beberapa survey yang menaruh kopi sebagai hasil alam yang tingkat transaksinya cukup stabil. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia. Artinya, surganya kopi juga ada di Indonesia. Lalu, apa hubungannya dengan rasa nasionalisme kita?



Disinilah letak pertanyaan mendasarnya. Kedai kopi ‘asing’ yang bertebaran di bumi nusantara ini sebenarnya mengambil biji kopi yang ditanam oleh petani kopi lokal di Indonesia. Mereka membeli dari petani Toraja, Mandailing dan Gayo. Jadilah kopi-kopi yang dijajakan di kedai ‘asing’ ini dijual lagi kepada bangsa Indonesia. Artinya, kopi lokal yang dihasilkan di bumi Indonesia—yang dibeli cukup murah dari para petani dijual kepada pelanggan dengan harga yang naik dua kali lipat. Lihat saja beberapa kedai kopi ‘asing’ yang memberi label harga untuk secangkir kopi Rp25 sampai Rp40 ribu. Sungguh fantastis.



Dari situlah kemudian bangsa Indonesia bisa melihat jika kekayaan alam berupa tanaman kopi yang sangat potensial ini mesti digarap dengan ‘otak’ bukan sekedar ‘otot’. Kita memang berterima kasih kepada ‘kedai kopi asing’ yang telah menduniakan kopi-kopi asli Indonesia kepada masyarakat Internasional. Sebut saja beberapa kopi lokal yang mendunia seperti Kopi Toraja, Kopi Papua, Kopi Mandailing, Kopi Lampung dan Kopi Luwak—yang kini menjadi favorit dan laku keras di pasar dunia. Namun, kebanggaan itu akan lebih terasa jika bangsa ini mau dan sadar bahwa kekayaan Kopi nusantara tersebut merupakan potensi besar untuk meraup keuntungan jika digarap dengan serius dan inovatif.



Negara ini membutuhkan wirausaha untuk menggerakkan perekonomiaan bangsa. Karena itu, di tengah tahun baru yang baru saja beberapa waktu kita lewatkan, alangkah strategisnya jika kenikmatan secangkir kopi yang biasa diminum di kedai-kedai kopi ‘asing’ mampu memberi dampak positif untuk menggerakkan roda perekonomiaan bangsa ini. Salah satunya dengan memanfaatkan ‘Kopi nusantara’ sebagai bisnis yang tak pernah surut sepanjang zaman sejak biji kopi ditemukan dan dimanfaatkan. Selamat mencoba.

Jakarta, 1 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar