KOPI
DAN NASIONALISME 2013
Tahun baru 2013 datang
menyingsing menyapa dengan kegembiraan bagi setiap insan di bangsa ini. Namun,
tahukah anda jika resolusi dalam setiap tahun baru penting guna mengingatkan rakyat agar berbuat
lebih baik terutama bagi kehidupan bangsa ini. Nah, dari situlah catatan
penting tentang nasionalisme menguat dan mesti digugat oleh setiap kita. Salah
satu contohnya adalah ‘Kopi’. Memang terksesan terlalu ‘lebay’ kata anak
sekarang. Tapi, dari sebuah kopi nasionalisme itu bisa diuji. Bagaimana
caranya??
Menikmati secangkir kopi
bukan lagi sekedar untuk melepas dahaga atau menghilangkan kantuk belaka. Di
era modern ini, minum kopi sudah menjadi gaya hidup yang tidak bisa disangsikan.
Tengoklah berbagai kedai kopi ‘asing’ yang kini berjamuran di pusat-pusat
keramaiaan kota. Jakarta misalnya, kini dikepung dengan kedai kopi ‘asing’ yang
subur dan ramai pengunjung.
Kopi yang disajikan pun
beraneka ragam. Mulai dari kopi import sampai kopi lokal yang harganya cukup
menguras kocek pelanggan. Kopi sendiri merupakan hasil alam yang cukup besar di
konsumsi masyarakat dunia—setelah minyak dan gas. Hal ini terbukti dari
beberapa survey yang menaruh kopi sebagai hasil alam yang tingkat transaksinya
cukup stabil. Indonesia sendiri merupakan negara penghasil biji kopi terbesar
keempat di dunia. Artinya, surganya kopi juga ada di Indonesia. Lalu, apa
hubungannya dengan rasa nasionalisme kita?
Disinilah letak pertanyaan
mendasarnya. Kedai kopi ‘asing’ yang bertebaran di bumi nusantara ini
sebenarnya mengambil biji kopi yang ditanam oleh petani kopi lokal di
Indonesia. Mereka membeli dari petani Toraja, Mandailing dan Gayo. Jadilah
kopi-kopi yang dijajakan di kedai ‘asing’ ini dijual lagi kepada bangsa
Indonesia. Artinya, kopi lokal yang dihasilkan di bumi Indonesia—yang dibeli
cukup murah dari para petani dijual kepada pelanggan dengan harga yang naik dua
kali lipat. Lihat saja beberapa kedai kopi ‘asing’ yang memberi label harga
untuk secangkir kopi Rp25 sampai Rp40 ribu. Sungguh fantastis.
Dari situlah kemudian bangsa
Indonesia bisa melihat jika kekayaan alam berupa tanaman kopi yang sangat
potensial ini mesti digarap dengan ‘otak’ bukan sekedar ‘otot’. Kita memang
berterima kasih kepada ‘kedai kopi asing’ yang telah menduniakan kopi-kopi asli
Indonesia kepada masyarakat Internasional. Sebut saja beberapa kopi lokal yang
mendunia seperti Kopi Toraja, Kopi Papua, Kopi Mandailing, Kopi Lampung dan
Kopi Luwak—yang kini menjadi favorit dan laku keras di pasar dunia. Namun,
kebanggaan itu akan lebih terasa jika bangsa ini mau dan sadar bahwa kekayaan
Kopi nusantara tersebut merupakan potensi besar untuk meraup keuntungan jika
digarap dengan serius dan inovatif.
Negara ini membutuhkan
wirausaha untuk menggerakkan perekonomiaan bangsa. Karena itu, di tengah tahun
baru yang baru saja beberapa waktu kita lewatkan, alangkah strategisnya jika
kenikmatan secangkir kopi yang biasa diminum di kedai-kedai kopi ‘asing’ mampu
memberi dampak positif untuk menggerakkan roda perekonomiaan bangsa ini. Salah
satunya dengan memanfaatkan ‘Kopi nusantara’ sebagai bisnis yang tak pernah
surut sepanjang zaman sejak biji kopi ditemukan dan dimanfaatkan. Selamat
mencoba.
Jakarta, 1 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar