Sabtu, 16 Februari 2013

Soal Islam dan Nasionalisme



Mengislamkan Kampus, Mengislamkan Indonesia
 

Sebagai sebuah agama yang memiliki penganut mayoritas di Indonesia, agama Islam mendapat porsi strategis dalam berbagai dimensi kehidupan manusia Indonesia. Tidak saja menarik perbincangan oleh kalangan internal bangsa Indonesia tapi juga mengundang ketertarikan pihak luar. Dari sudut pandang ini, dapatlah kita melihat jika Islam dalam berbagai dimensi khususnya Islam Indonesia merupakan diskursus terbesar peradaban bangsa sejak Indonesia merdeka. 

Mengapa demikian?? Hal ini dapat dianalisa sebagai berikut. Sejak kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, kalangan Islam yang ketika itu dipelopori oleh para foundhing fathers  yang berangkat dari kalangan muslim, menghendaki agar piagam Jakarta dimasukkan dalam klausul UUD 1945 sebagai dasar dari perjalanan bangsa Indonesia di masa depan. 

Keinginan itu dibubuhi dengan adanya semangat mayoritas yang begitu bergejolak, khususnya dari tokoh-tokoh Islam yang diwakili oleh Agus Salim, M. Natsir, Moh.Yamin dan kalangan senior lainnya.


Dapat dibayangkan bagaimana perdebatan di dalam sidang-sidang BPPUPKI ketika itu yang kaya dengan imajinasi perdebatan kebangsaan. Namun, cita-cita (Islam sebagai dasar negara)  kandas dengan dihempaskannya Piagam Jakarta dari batang tubuh UUD 1945 dengan argumentasi yang juga cukup rasional dalam telaah Indonesia kekiniaan. 


Kekalahan itu setidaknya memberi efek psikologis yang mendalam bagi para pengusung Islam sebagai dasar bernegara. Berbagai pergolakan itu tidak berhenti tatkala UUD 1945 diputuskan. Gemuruh dan kebingaran politik pasca dihempaskannya Piagam Jakarta sebagai dasar negara memunculkan beragam kontradiksi sekaligus friksi, baik dari kalangan internal umat Islam serta kalangan luar.


Setidaknya, kebangkitan nasionalisme yang kemudian mengubur jauh-jauh klaim mayoritas ‘sebagai pemilik’ terpendam jauh sejak kejadian ini. Gejolak itu kemudian memunculkan berbagai pergolakan, baik pergolakan bersenjata dan politik. 


Negara Islam Indonesia (NII) yang diproklamirkan oleh Kartosoewiryo, ditanah Jawa, dan Kahar Muzakkar di Sulawesi, membuat keutuhan NKRI yang baru seumur jagung itu terancam ‘bubar’ dengan sendirinya.  Perpecahan menjadi ketakutan yang luar biasa. Kaum nasionalis, elit politik oportunis, Indonesianis anti Islam dan para petualang politik--menduga keretakan ini bersumber karena rasa ‘sakit hati’ para elit Islam yang cita-citanya untuk mendirikan negara Islam ditolak mentah-mentah alias dikhianati pada saat perumusan bangsa Indonesia ketika itu. 


Namun, dugaan itu menjadi tuduhan tanpa pembuktian yang valid. Islam sebagai golongan dan komponen strategis bangsa difitnah kelompok anti Islam yang mengerti betul psikologi politik elit Indonesia ketika itu yang sangat mendukung untuk mengerdilkan Islam politik sekaligus pada tahap selanjutnya kekuatan Islam sebagai gerakan sosial. 


Islam kemudian menjadi kelompok pinggiran dari wacana kebangsaan dan pejuang kemerdekaan. Islam sengaja dilupakan agar sejarah bangsa ini tidak berutang besar dengan umat yang mayoritas ini.

Islam, PKI dan Militer

Muncullah PKI (Partai komunis Indonesia) yang di masa-masa kemerdekaan RI mendapat tempat cukup prestisius sebagai partai politik ketiga terbesar pada pemilu pertama kali tahun 1955. 
                                                                                                         Dipa Nusantara Aidit, Ketua PKI

Kehadiran PKI bukan malah mempermudah gerak perjalanan sejarah bangsa. Justru sebaliknya. PKI hadir dengan wajah ‘bringas’ dengan hunusan pedang tajam untuk melawan siapapun penghalang gagasan komunis untuk diterapkan di Indonesia—termasuk Islam waktu itu. 


Islam dan kelompok militer dianggap musuh karenanya dijadikan target untuk ditaklukkan dan dibumi hanguskan. Berbagai operasi untuk menyusup dilakukan secara strategis dan massif. Masuknya agen komunis yang ketika itu menyusup di dalam organisasi Islam semisal Syarikat Dagang Islam membuat perpecahan antara SI versi Islam dan SI versi PKI (SI Merah).  

Adu domba dilakukan antara umat dengan kelompok umat lainnya. Tujuannya untuk melemahkan Islam sebagai kekuatan politik dan sosial yang dianggap PKI sebagai penghalang terbesar untuk perkembangbiakkan ide komunis Indonesia. Islam diadu domba dan berhasil hingga Islam tersingkir dari panggung politik walaupun sisa-sisa kekuatanya masih terserakan dalam panggung politik.


Kemudian terjadilah “Pemberontakan G 30 S PKI” yang didalangi oleh elit komunis yang kemudian menewaskan tujuh pahlawan revolusi. Semua korban pembunuhan dari kalangan militer atau yang disebut Dewan Jenderal. Kudeta ala PKI tersebut menggemparkan situasi perpolitikan dan pada sisi yang lain mengguncang perekonomian Indonesia yang berada pada titik paling ekstrim ketika itu. 


Ada kegeraman sekaligus kegembiraan yang dirasakan rakyat dan tokoh politik anti PKI. Bagi para pendukung PKI, tentu saja kudeta tersebut dianggap sebagai sebuah kemenangan politik sekaligus menyelamatkan Indonesia dari bahaya kolonialisme dan kapitalisme yang ketika itu menjadi ‘jualan politik’ elit PKI untuk menggerakkan massa mereka. 


Bagi Bung Karno—yang pada masa itu memiliki kemesraan dengan PKI yang begitu dekat, kudeta ini dianggap olehnya sebagai sebuah sikap patriotik untuk menyelamatkan dirinya yang ketika itu dijuluki rakyat sebagai “Panglima Besar Revolusi” dari kudeta dewan jenderal yang anti terhadap berbagai gagasan Bung Karno dan ingin merebut kekuasaannya. 


Bung Karno
 
Para jenderal itu dicurigai akan berkhianat pada Bung Karno dan berambisi untuk merebut tahta Bung Karno dengan jalan darah. Tentu saja, informasi ini didapat Presiden dari elit PKI yang saat itu menjadi teman dekat Istana untuk melancarkan perang tertutup antara Komunis dengan musuh-musuhnya.


Islam Kekiniaan, Islam yang Terpinggirkan
Logika mayoritas tidak selamanya dapat diterima ditengah heterogennya manusia Indonesia. Karakteristik manusia Indonesia yang berasal dan terdiri dari beragam suku dan ras, menyebabkan logika itu terbantahkan dengan sendirinya. Hal itu berlaku juga bagi umat Islam Indonesia. Logika mayoritas tersebut tidak lantas memberi privilege bagi umat Islam untuk hidup di Indonesia. 


Sebab, sejarah sudah membuktikannya. Islam boleh besar secara kuantitatif di Indonesia. Namun, secara kualitatif, Islam sebagai kekuatan yang ‘maha dahsyat’ justru kandas karena logika mayoritas yang mengedepankan kuantitatif ketimbang kualitas umatnya. Berbeda dengan misalnya kalangan Tionghoa Indonesia. Walaupun secara kuantitatif jumlahnya sangat kecil, namun secara kualitas khususnya dalam bidang ekonomi—hampir seluruhnya dikuasai kelompok ini. 


Tidak saja di Jakarta sebagai Ibukota negara bahkan cengkramannya hingga keseluruh Indonesia. Islam lantas menjadi agama yang ‘kecil’ ditengah kebesaran jumlah pengikutnya. Islam menjadi agama yang terpinggirkan ditengah pusara kekuasaan dan kekayaan bangsa. Bisa dihitung jari pengusaha pribumi yang beragama muslim di Indonesia. Jikapun ada, itupun tidak terlepas dari sejarah panjang bagaimana dirinya mampu keluar dari cengkraman hegemoni pengusaha non pribumi atau non muslim sehingga survive sebagai pengusaha sukses. 


Islam sebagai nilai dan substansi ajaran universal kandas ditengah pergulatan ideologi kapitalisme dan Konfusian yang kini hadir ditengah-tengah arus gelombang globalisasi yang kian mencekik leher umat Islam Indonesia. Singkatnya, wajah Islam Indonesia merupakan wajah Islam yang menyedihkan dan memilukan. Sebegitu dramatisirkah??



Jika dilihat sekarang ini, dari aspek manakah umat Islam Indonesia unggul?? Dari segi politik, terbukti, partai pemenang pemilu pada tahun 1999 merupakan partai dengan basis yang bukan Islam. Di tahun 2004 juga demikian hingga tahun 2009 yang lalu, justru bukanlah partai berbasis Islam yang memenangkan pemilu dari tiga kali pelaksanaan pemilu pasca reformasi. 



Begitupula dengan dimensi ekonomi, pengusaha muslim tertinggal jauh dari kalangan non Islam. Di bidang pendidikan, kekayaan pengetahuan Islam dikalahkan dengan hegemoni pengetahuan ala barat yang sebenarnya turut disumbang para pemikir muslim ketika barat mengalami masa suram pada peradabannya. Dari segi kebudayaan misalnya. 

Umat Islam Indonesia juga kalah telak dari hegemoni berbagai budaya asing yang tadinya mampir ke Indonesia namun kini menjadi trend kebudayaan remaja yang rata-rata beragama muslim tersebut. 


Kecanggihan teknologi beserta kemudahannya malah menggelincirkan para penerus bangsa ke dalam lobang gelap dan suram. Aksi tawuran antar pelajar yang baru-baru ini terjadi—menggemparkan sekaligus menampar muka bangsa Indonesia yang dikenal berwajah ramah oleh milyaran penduduk dunia. Sialnya, diantara pembunuh sesama anak bangsa itu ternyata sebagian beragama muslim setidaknya di KTP (Kartu Tanda Penduduk). 


Memang tidak bisa dijadikan generalisasi. Namun dari konteks itulah evaluasi atas pengaruh kebudayaan serta kecanggihan teknologi mengundang prilaku negatif akibat derasnya tsunami informasi dari berbagai arah tanpa diiringi pendampingan oleh orang yang lebih tua mendapatkan tempatnya.



Budaya kekerasan, prilaku sex bebas, narkoba dan kejahatan anak di bawah umur merupakan produk tercanggih yang kemudian dihasilkan oleh generasi bangsa yang kemudian mayoritas beragama Islam. Dapat dibayangkan wajah Indonesia dan umat Islam lima atau sepuluh tahun mendatang. Sungguh mengkhawatirkan.



Kebangkitan Indonesia dari Kampus
Dari ribuan kata yang telah ditulis diatas. Maka, tibalah saatnya untuk merangkum dalam sebuah gerakan yang dapat dirasakan manfaatnya, tidak saja bagi umat Islam—dalam konteks ini juga dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia terlepas dari beragam latar belakang suku, agama, ras dan pendidikan. 


Solusi yang dapat ditawarkan dapatlah kita bagi menjadi tiga bagian yaitu strategi jangka pendek, menengah dan panjang. Untuk strategi jangka pendek, umat Islam Indonesia mestilah membenarkan keyakinannya dalam beragama. Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya sangat universal namun tetap bertumpu kepada kesalehan individual—dituntut untuk setidaknya mampu memahami Islam sebagai agama yang humanis dengan mengedepankan kesalehan sosial. Keseimbangan antara dunia dan akhirat merupakan salah satu inti Islam sebagai ajaran langit.


Umat Islam di Indonesia tidak saja diperintahkan untuk mengedepankan kesalehan individu yang dilakukan dengan cara menjalankan ibadah rutin semisal sholat, puasa, zakat dan haji namun Islam lebih daripada itu. Islam merupakan agama yang memihak kepada kaum tertindas dan miskin. Dalam konteks kekayaan misalnya, Islam menganjurkan distribusi kekayaan dengan dictum “dari harta yang dimiliki, ada sebagian hak orang lain yang mesti diberikan kepada orang yang berhak menerima”.

Artinya, kesalehan individu saja tidak cukup. Begitupula dengan keberlimpahan harta yang luar biasa juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pendistribusiaan bagi kelompok yang berhak menerima. Disinilah dituntut perubahan paradigma Islam sebagai agama yang membumi. 

Konskwensinya, Islam menjadi agama yang merakyat karena berpihak pada persoalan dunia tanpa mengenyampingkan urusan akhirat sebagai tugas profetik individu. Untuk jangka menengah, Umat Islam Indonesia mesti membangkitkan kepercayaan dirinya sebagai mahluk Tuhan yang juga memiliki kesamaan hak untuk hidup dan menghirup udara di muka bumi ini. 


Setidaknya, equality di atas muka bumi menjadi satu kesatuan untuk mendamaikan segala prasangka serta rasa kalah (inferior complex) akibat berbagai tuduhan dan tudingan kepada umat Islam di Indonesia.


Islam mesti ditampilkan dalam wajah yang teduh dan santun sebagai agama langit yang mengedepankan kesuciaan dan anti terhadap penyebaran keyakinan melalui darah dan air mata. 

Islamophobia yang saat ini sedang digencarkan oleh kelompok ekstrimis yang tidak bertanggung jawab tidak malah membuat umat Islam Indonesia menjadi bertekuk lutut dan menyerah dengan penghakiman opini atas Islam dalam berbagai media dan kesempatan. 


Karena itu, kebangkitan umat semsetinya dimulai dari bangkitnya kepercayaan diri penganut ajaran itu sendiri sehingga mampu menerabas belantara asumsi dan tuduhan miring atas beragam ajaran Islam khususnya bagi umat Islam Indonesia.


Strategi terakhir, mereformasi paradigma pengetahuan untuk kemudian mengislamkan berbagai pengetahuan sebagai modal untuk membangun peradaban Islam yang dimulai dari umat Islam Indonesia. 


Kita masih ingat bagaimana Samuel Huntingtton, pakar politik sekaligus seorang orientalis kenamaan barat memprediksi kebangkitan sebuah peradaban setelah runtuhnya Uni Soviet sebagai rival Amerika Serikat dan sekutunya. 

Huntingtton mengingatkan jika kebangkitan Islam merupakan cikal bakal dari runtuhnya peradaban barat sehingga kuda troya bernama Islam itu mampu mengalahkan sekaligus menaklukkan sejarah dunia dan merebutnya dari barat. Setidaknya, asumsi itu walau sudah banyak dibantah namun masih memiliki relevansinya sebagai sebuah spirit membangkitkan Islam khususnya di Indonesia. 
Umat Islam sedang sembahyang

Faktanya, untuk membangun sebuah peradaban tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bukan berarti telapak tangan itu tidak bisa dibalikkan sama sekali. Ada banyak cara dan strategi yang bisa dan dapat digunakan oleh umat Islam Indonesia. Salah satunya dengan mengislamkan pengetahuan alias Islamisasi Sains dan Kampus. 


Ide ini sebenarnya tidak terlalu membumi, namun tidak juga terlalu melangit. Secara teori sudah banyak pakar Islam yang mengkaji dan kemudian mempraktekkanya dalam keseharian mereka di kampus. 

Proyek islamisasi kampus itu tentu saja tidak mudah karena kampus sudah lama terjajah dengan ilmu yang dihadirkan dari barat. Inferior complex yang diidap para cendikiawan Islam yang bermukim dikampus telah lama mendoktrin mereka bahwa barat merupakan sumber pengetahuan satu-satunya. 

Akibatnya, para cendikiawan muslim enggan melirik proyek besar ini sebagai sebuah karya intelektual yang kelak dicatat dalam sebuah peradaban Indonesia. Islamisasi kampus tidak melulu terkait hegemoni dan eksluisiftas Islam atas sebuah pengetahuan. 

Karena Islam merupakan ajaran universal yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat beragama lainnya.
Misalnya seperti sistem syariah yang kini tumbuh berkembang diberbagai belahan dunia, tidak saja dunia muslim tapi negara-negara sekuler lainnya.  


Sistem perekonomiaan syariah itu membuktikan jika ajaran Islam mampu bersaing dan laku tidak saja bagi para penganut agama Islam. 

 
Disinilah letak salah satu keberhasilan Islamisasi pengetahuan untuk diterapkan dalam kehidupaan manusia. Tentu masih banyak proyek islamisasi pengetahuan yang kemudian berhasil diterima oleh masyarakat dunia. Hanya saja, prestasi tersebut masih kalah jauh bila membandingkan dengan hegemoni produk pengetahuan dari barat.


Kampus: Barak pengetahuan dan Lumbung Ideologisasi
Karena itu, kampus harus mendapatkan porsi terbesar dalam rangka membangun sebuah peradaban  khususnya bagi bangsa Indonesia.  Sebagai basis dari para kader umat dan bangsa—letak strategis kampus tidak dapat dinomorduakan dalam konteks sumber kepemimpinan dari sipil. 


Berbeda halnya dengan komponen bangsa seperti militer. Walaupun sejarah kepemimpinan bangsa Indonesia mencatat dari enam Presiden yang dimiliki Indonesia, dua orang berbasis pada militer yaitu Soeharto dan SBY. Dalam konteks ini  kombinasi antara militer-sipil merupakan pola kepemimpinan politik Indonesia. 


Hal ini tidak saja berlaku bagi Indonesia. Negara sekelas Amerika-Serikat pun memiliki tradisi yang hampir sama—kombinasi antara sipil-militer. Oleh karena itu, berbanggalah mereka yang mampu menghidupkan nalar intelektualnya sebagai manusia sipil yang digembleng dikampus sekaligus menjadi dan mentradisikan kedispilinan semi militer sebagai pelengkap dari nalar yang sehat dan jiwa yang kuat (insana men corpore sano) dalam dunia kampusnya. 

Sebab, perpaduan inilah yang kemudian mampu diharapkan untuk mengeluarkan krisis umat dan kebangsaan kita yang saat ini begitu menggurita seolah tanpa jalan keluarnya. Kombinasi antara kedispilinan dan nalar intelektual untuk membangun peradaban inilah yang menjadi kunci untuk membuka kotak pandora peradaban Indonesia yang saat ini masih menunggu untuk dibuka. Mungkinkah hal itu terjadi. 


Mari kita menunggu kiprah dari kombinasi perpaduan antara nalar intelektual dan semangat nasionalisme dari mahasiswa di seluruh Indonesia pada umumnya. Selamat Berjuang....
       
 

 Jakarta, 3 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar