DIBALIK KEKALAHAN FOKE-NARA
Kota Jakarta ibarat gula manis. Setiap semut yang hidup
pasti ingin mencicipi kemanisan rasanya. Tidak heran jika semut-semut itu
dihalangi akan dilakukan berbagai cara membasmi musuhnya. Termasuk dengan
menaruh orang yang tidak mengerti persoalan untuk dijadikan boneka agar
kepentingan dan tujuan si semut itu tercapai.
Akhirnya rakyat Jakarta kini bisa berlega hati. Setelah
pertarungan opini disertai propaganda yang dahsyat selama masa kampanye dan
Pilkada putaran kedua berlangsung—Hari ini warga Jakarta telah menemukan
pemimpin baru untuk lima tahun kedepan.
Adalah Jokowi-Ahok yang berhasil
memenangkan pertarungan versi Quick Count
yang dapat disaksikan pada layar televisi. Kemenangan itu
disambut suka cita para pendukung Jokowi-Ahok.
Begitupula dengan
para pendukung Foke-Nara yang mau tidak mau menerima hasil QC ini. Walaupun
belum secara resmi ditetapkan sebagai pemenang Pilkada DKI 2012, namun berbagai
ucapan selamat kepada pasangan yang diusung PDIP dan Gerindra tersebut datang
terus menerus baik dari para tokoh politik nasional dan masyarakat.
![]() |
| Gubernur DKI Jakarta 2007-2012, Fauzi Bowo |
Kemenangan ini tentu saja harus dimaknai sebagai sebuah
proses pembelajaran demokrasi yang cukup
elegan. Kekhawatiran yang selama ini
terjadi terhadap adanya berbagai isu SARA dan etnis, nampaknya luntur
dikarenakan kesepakatan para tim sukses untuk melakukan kampanye secara elegan
dan mencerdaskan.
Tidak ada pernyataan resmi dan analisa jitu untuk
menggambarkan mengapa Foke-Nara yang diusung oleh partai-partai besar kalah
pada putaran kedua. Setidaknya, hal ini menggambarkan jika bandul perpolitikan
nasional turut berubah ke arah yang belum dapat ditelaah secara mendalam.
Namun, ada berbagai analisa yang dapat didebatkan mengenai
kekalahan Foke-Nara pada Pilkada. Terpilihnya Jokowi-Ahok memberikan dua asumsi yang selama ini menjadi
hot issu yang kemudian menguntungkan Jokowi. Pertama, masyarakat Jakarta khususnya merasakan tidak adanya
perubahan signifikan yang selama ini dilakukan Foke. Padahal, Foke sebagai
gubernur Jakarta mestinya dapat melakukan berbagai terobosan penting untuk Kota
Jakarta. Sayangnya, selama lima tahun berkuasa, Jakarta tidak memiliki banyak
perubahan yang berarti.
Jika dilihat dari
APBD Jakarta—seharusnya banyak hal yang bisa dikerjakan dengan uang sebesar
itu. Sayang, Foke belum maksimal mengelola keuntungan tersebut akibatnya warga
menghukum dengan cara tidak memilih Foke pada Pilkada kali ini. Asumsi ini
tentu bisa saja salah.
Dilihat dari
kecendrungan para pemilih yang mendukung Jokowi dan memilihnya, warga Jakarta
menginginkan perubahan. Nah, hal itulah yang ditangkap oleh Jokowi beserta
timses nya yang kemudian mengusung idiom “Jakarta Baru”.
Kedua, adanya mega
proyek besar yang direbutkan oleh para bandar besar di Jakarta. Seperti
diketahui pada tahun 2013 nanti mega proyek pembangunan MRT ratusan kilometer
itu akan segera dibangun di Jakarta. Tentu saja, bicara proyek akan banyak
semut-semut yang kelak mengerubinginya.
Proyek MRT ibarat gula manis yang diperebutkan oleh para
bandar besar. Dari info dan rumor yang berkembang—proyek inilah dan moratorium
pembangunan mall yang kemudian menyandera Foke dan tidak mendapat dukungan
signifikan dari bandar-bandar besar .
Dukungan bandar besar
sangat signifikan. Selain dukungan suara juga dukungan logistik selama
pertarungan pilkada berlangsung. Akibatnya, Foke tidak banyak disumbang bandar yang pada pilkada 2007 lalu mendukung
Foke.
![]() |
| Jokowi- Prabowo- Ahok Saat Kampanye Pilkada DKI 2012 |
Pilkada 2012 ini mereka menjatuhkan pilihan kepada pasangan
nomor urut tiga (Jokowi-Ahok). Selain memiliki kepentingan mega proyek tersebut, alasan kesamaan
primordial jadi salah satu alasan pelimpahan dukungan. Mengapa Foke tidak mendapat dukungan bandar
besar?? Alasannya sederhana, karena Foke tidak ingin mega proyek MRT dan
proyek-proyek lain menjadi bancakan para bandar. Berbeda halnya dengan pasangan
lawannya, bancakan itu menjadi konsekwensi dari dukungan yang diberikan.
Artinya, dibalik dukungan yang diberikan terjadi proses
transaksional yang dilakukan oleh timses dengan para bandar yang memiliki
pengaruh tidak hanya di Jakarta tapi juga di Indonesia.
Benarkah rumor tersebut?? Mari kita simak saja bagaimana
Kota Jakarta selama lima tahun kedepan. Berbagai proyek yang sudah dicanangkan
selama masa kepemimpinan Foke akankah dibatalkan atau dilanjutkan. Selain itu,
kita juga dapat mengawasi pemberian jatah proyek kepada pihak tertentu. Jika
asumsi ini terbukti berarti ada pola transaksional yang dilakukan oleh pemenang
pilkada pada saat Jakarta memilih pemimpin kemarin.
Semoga rumor yang kedua ini bisa saja salah karena persepsi
yang keliru. Namun, sejauh pengamatan yang dilakukan dan berdasar info yang berkembang
dikalangan aktivis Jakarta—memang pola transaksional untuk membagikan jatah
mega proyek di Jakarta sudah santer terdengar dikuping para aktivis dan pengamat
pilkada DKI.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar