Selasa, 26 Februari 2013

Dibalik Kekalahan Foke-Nara



DIBALIK KEKALAHAN FOKE-NARA


Kota Jakarta ibarat gula manis. Setiap semut yang hidup pasti ingin mencicipi kemanisan rasanya. Tidak heran jika semut-semut itu dihalangi akan dilakukan berbagai cara membasmi musuhnya. Termasuk dengan menaruh orang yang tidak mengerti persoalan untuk dijadikan boneka agar kepentingan dan tujuan si semut itu tercapai.


 Akhirnya rakyat Jakarta kini bisa berlega hati. Setelah pertarungan opini disertai propaganda yang dahsyat selama masa kampanye dan Pilkada putaran kedua berlangsung—Hari ini warga Jakarta telah menemukan pemimpin baru untuk lima tahun kedepan. 

Adalah Jokowi-Ahok yang berhasil memenangkan pertarungan versi Quick Count yang dapat disaksikan pada layar televisi. Kemenangan itu disambut suka cita para pendukung Jokowi-Ahok.
 Begitupula dengan para pendukung Foke-Nara yang mau tidak mau menerima hasil QC ini. Walaupun belum secara resmi ditetapkan sebagai pemenang Pilkada DKI 2012, namun berbagai ucapan selamat kepada pasangan yang diusung PDIP dan Gerindra tersebut datang terus menerus baik dari para tokoh politik nasional dan masyarakat. 
Gubernur DKI Jakarta 2007-2012, Fauzi Bowo



Kemenangan ini tentu saja harus dimaknai sebagai sebuah proses pembelajaran demokrasi yang cukup 
elegan. Kekhawatiran yang selama ini terjadi terhadap adanya berbagai isu SARA dan etnis, nampaknya luntur dikarenakan kesepakatan para tim sukses untuk melakukan kampanye secara elegan dan mencerdaskan.

Tidak ada pernyataan resmi dan analisa jitu untuk menggambarkan mengapa Foke-Nara yang diusung oleh partai-partai besar kalah pada putaran kedua. Setidaknya, hal ini menggambarkan jika bandul perpolitikan nasional turut berubah ke arah yang belum dapat ditelaah secara mendalam.

Namun, ada berbagai analisa yang dapat didebatkan mengenai kekalahan Foke-Nara pada Pilkada. Terpilihnya Jokowi-Ahok  memberikan dua asumsi yang selama ini menjadi hot issu yang kemudian menguntungkan Jokowi. Pertama, masyarakat Jakarta khususnya merasakan tidak adanya perubahan signifikan yang selama ini dilakukan Foke. Padahal, Foke sebagai gubernur Jakarta mestinya dapat melakukan berbagai terobosan penting untuk Kota Jakarta. Sayangnya, selama lima tahun berkuasa, Jakarta tidak memiliki banyak perubahan yang berarti.

 Jika dilihat dari APBD Jakarta—seharusnya banyak hal yang bisa dikerjakan dengan uang sebesar itu. Sayang, Foke belum maksimal mengelola keuntungan tersebut akibatnya warga menghukum dengan cara tidak memilih Foke pada Pilkada kali ini. Asumsi ini tentu bisa saja salah.
Dilihat dari kecendrungan para pemilih yang mendukung Jokowi dan memilihnya, warga Jakarta menginginkan perubahan. Nah, hal itulah yang ditangkap oleh Jokowi beserta timses nya yang kemudian mengusung idiom “Jakarta Baru”.

Kedua, adanya mega proyek besar yang direbutkan oleh para bandar besar di Jakarta. Seperti diketahui pada tahun 2013 nanti mega proyek pembangunan MRT ratusan kilometer itu akan segera dibangun di Jakarta. Tentu saja, bicara proyek akan banyak semut-semut yang kelak mengerubinginya.
Proyek MRT ibarat gula manis yang diperebutkan oleh para bandar besar. Dari info dan rumor yang berkembang—proyek inilah dan moratorium pembangunan mall yang kemudian menyandera Foke dan tidak mendapat dukungan signifikan dari bandar-bandar besar .
 Dukungan bandar besar sangat signifikan. Selain dukungan suara juga dukungan logistik selama pertarungan pilkada berlangsung. Akibatnya, Foke tidak banyak disumbang bandar  yang pada pilkada 2007 lalu mendukung Foke. 


Jokowi- Prabowo- Ahok Saat Kampanye Pilkada DKI 2012
Pilkada 2012 ini mereka menjatuhkan pilihan kepada pasangan nomor urut tiga (Jokowi-Ahok). Selain memiliki kepentingan  mega proyek tersebut, alasan kesamaan primordial jadi salah satu alasan pelimpahan dukungan.  Mengapa Foke tidak mendapat dukungan bandar besar?? Alasannya sederhana, karena Foke tidak ingin mega proyek MRT dan proyek-proyek lain menjadi bancakan para bandar. Berbeda halnya dengan pasangan lawannya, bancakan itu menjadi konsekwensi dari dukungan yang diberikan.
Artinya, dibalik dukungan yang diberikan terjadi proses transaksional yang dilakukan oleh timses dengan para bandar yang memiliki pengaruh tidak hanya di Jakarta tapi juga di Indonesia.

Benarkah rumor tersebut?? Mari kita simak saja bagaimana Kota Jakarta selama lima tahun kedepan. Berbagai proyek yang sudah dicanangkan selama masa kepemimpinan Foke akankah dibatalkan atau dilanjutkan. Selain itu, kita juga dapat mengawasi pemberian jatah proyek kepada pihak tertentu. Jika asumsi ini terbukti berarti ada pola transaksional yang dilakukan oleh pemenang pilkada pada saat Jakarta memilih pemimpin kemarin.


Semoga rumor yang kedua ini bisa saja salah karena persepsi yang keliru. Namun, sejauh pengamatan yang dilakukan dan berdasar info yang berkembang dikalangan aktivis Jakarta—memang pola transaksional untuk membagikan jatah mega proyek di Jakarta sudah santer terdengar dikuping para aktivis dan pengamat pilkada DKI.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar